Ilustrasi pemijahan dan pertumbuhan benih ikan nila.
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang paling populer di Indonesia. Keberhasilan budidaya nila sangat bergantung pada ketersediaan benih yang berkualitas. Proses pembibitan ikan nila memerlukan perhatian khusus terhadap kualitas induk, kondisi lingkungan, hingga pemeliharaan larva. Berikut adalah langkah-langkah sistematis yang perlu Anda ikuti.
Kualitas benih dimulai dari kualitas induk. Pemilihan induk yang tepat adalah kunci keberhasilan penetasan dan kelangsungan hidup larva.
Induk ideal harus berasal dari strain unggul (pertumbuhan cepat, tahan penyakit). Rasio ideal antara induk jantan dan betina adalah 1:2 hingga 1:3.
Induk yang akan dipijahkan perlu diberi pakan berkualitas tinggi (protein 30-35%) setidaknya selama 2-3 minggu sebelum dipijahkan. Ini bertujuan untuk mematangkan gonad (sel telur dan sperma).
Pembibitan ikan nila dapat dilakukan secara alami (di kolam) atau semi-intensif/intensif (menggunakan bak pemijahan).
Kolam pemijahan biasanya disiapkan dengan kedalaman air sekitar 80–100 cm. Dasar kolam bisa berupa tanah atau dialasi terpal. Untuk memancing pemijahan, sediakan substrat seperti ijuk atau serabut kelapa sebagai tempat induk meletakkan telur.
Metode ini sering digunakan untuk mengontrol waktu pemijahan. Betina yang sudah matang gonad disuntik hormon pemicu (misalnya Ovopel), dan 12-24 jam kemudian baru dipertemukan dengan pejantan untuk pembuahan manual atau alami di bak pemijahan.
Setelah pembuahan, telur akan membutuhkan waktu inkubasi sekitar 2–4 hari tergantung suhu air. Tahap ini sangat krusial.
Jika menggunakan bak pemijahan dengan aerasi, telur akan menetas secara alami. Jika menggunakan metode buatan, telur harus diambil secara hati-hati dan dimasukkan ke dalam inkubator khusus (hatcher) dengan aerasi lembut hingga menetas.
Larva ikan nila (benih ikan nila) akan berenang bebas setelah kantung kuning telurnya habis terserap (umur 3-5 hari). Pada fase ini, mereka membutuhkan pakan yang sangat halus.
Ketika benih mencapai ukuran 1–3 cm (umur 3–4 minggu), mereka siap dipindahkan ke kolam pendederan atau bak yang lebih besar. Ini dikenal sebagai fase pendederan I.
Proses pendederan bertujuan untuk meningkatkan ukuran benih hingga mencapai ukuran standar pasar, yaitu ukuran stok (2-3 cm) atau ukuran siap tebar (5-7 cm).
Dengan mengikuti panduan cara pembibitan ikan nila ini secara teliti, petambak dapat memastikan produksi benih yang sehat dan optimal untuk melanjutkan ke tahap budidaya pembesaran.